Sroedji, Pejuang Kemerdekaan Berdarah Madura

4 comments
Judul Buku                  : Sang Patriot
Penulis                        : Irma Devita
Tebal                          : 266 halaman + xii
Penerbit                      : Inti Dinamika Publisher
Cetakan Pertama        : Februari, 2014         
ISBN                         : 978-602-14969-0-9



***
Saya mengenal nama Sroedji, ketika sering memasuki kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), disana terdapat jembatan dengan nama Jembatan Sroedji. Usut punya usut, pada saat melakukan Wingate Action pasca perjanjian renville, Letkol M. Sroedji beserta batalion alap-alap-nya melewati jembatan ini, alasan itulah jembatan tersebut diberi nama Jembatan Sroedji.
Jembatan Sroedji di TNMB
Novel karya Mbak Irma mengantarkan saya mengenal lebih jauh sosok Sroedji, pejuang kemerdekaan berdarah Madura. Novel ini menyajikan pelajaran sejarah dengan cara yang yang berbeda. Saat membaca novel ini, Saya merasa terhanyut kedalam alur cerita yang disajikan. Berperang melawan penjajah, menyusuri bukit, keluar masuk hutan, saya benar-benar larut dalam cerita novel ini.

Bukan hanya tentang Sroedji yang disajikan dalam novel ini, tetapi juga orang-orang dekat Sroedji. Novel ini juga bercerita tentang kasih sayang keluarga, persahabatan, perjalanan, kepemimpinan, kesetiaan, penghianatan, juga roman percintaan, kisah bagaimana perjumpaan Sroedji dengan Rukmini, istri Sroedji, ikut memberi warna tersendiri bagi novel ini.

Ada dua hal yang paling menarik bagi saya dalam novel karya Mbak Irma, Sang Patriot-Sebuah Epos Kepahlawanan. Bukan berarti kisah-kisah yang lainnya tidak menarik loh, kisah-kisah lainnya saling mendukung saling berhubungan, jadi jangan sampai dilewatkan. Kisah yang pertama yang menarik bagi saya adalah perjalanan Rukmini ke Kediri. Dalam kondisi hamil tua, Rukmini melakoni perjalanan dari Jember menuju Kediri dengan jalan kaki, melintasi bukit dan hutan, dihujani peluru juga granat. Semangat juang seorang Ibu yang patut diteladani. Perjuangan bukan hanya milki para pejuang di medan tempur, Perjuangan juga milik para Ibu dalam mempertahankan keutuhan keluarga.

“Anakku, kita keluarga Sroedji. Keluarga pejuang,... Bapakmu sedang berjuang mengusir penjajah. Kitapun harus berjuang,... Kuatkan dirimu. Bantu ibumu. (hal.125)”, Rukmini mengajak bicara sang janin.

Bab ini membuat saya terharu, terenyu dalam suasana yang diciptakan penulis. Penulis berhasil membuat perasaan pembacanya terombang-ambing. Saya pernah menyerah, pasrah terhadap kondisi perjalanan yang pernah saya lakoni, ketika pertama kali mendaki gunung. Tapi, tidak sebanding dengan apa yang dialami Rukmini.   

Yang kedua, perjalanan Wingate Action dari Blitar menuju Keresidenan Besuki. Perjalanan yang dilakoni Sroedji dan Batalion alap-alap, beserta beberapa rakyat sipil lewat jalur selatan, medannya sangat berat, berbukit, memiliki hutan yang sangat rapat, dan yang paling membuat saya merinding dikala Sroedji dan Batalion alap-alap menysuri lereng semeru. Mereka menyusuri hutan lereng Semeru pada malam hari, guna menghindari patroli serdadu Belanda dengan menggunakan obor sebagai satu-satunya alat penerangan. Hanya beberapa dari mereka menggunakan alas kaki ataupun sepatu. Pada bulan-bulan tertentu Semeru memiliki cuaca yang sangat ekstrem. Bayangkan, menyusuri hutan yang sangat rapat tanpa alas kaki. Saya pernah menyusuri hutan Meru Betiri tanpa alas kaki, dikarenakan sandal yang saya pakek putus. Alhasil, saya harus melumuri telapak kaki dengan bawang putih sesampainya dirumah. Itupun hanya sehari, bayangkan jika berhari-hari di dalam hutan yang memiliki cuaca ekstrem. Lagi-lagi penulis membuat saya bergidik, membuat saya penasaran untuk terus membaca novel ini.

Cerita yang disajikan mengalir apik, alur cerita maju-mundur menarik, membuat pembaca tidak jenuh membacanya, dan juga membikin penasaran akan ending pada bab-bab dalam novel ini. Cerita-cerita sejarah lainnya, seperti Gerbong Maut, Pertempuran Surabaya 1945, dan banyak lagi kisah-kisah sejarah lainnya tersaji dengan sangat rapi saling mendukung, semakin memperkuat isi novel Sang Patriot, karya Irma Devita. Terdapat juga beberapa lampiran daftar istilah, foto-foto perjuangan, dan puisi kepahlawanan.

Selamat membaca...
Semoga kita, bisa lebih menghargai sejarah,...

Salam,...
http://letkolmochsroedji.org/



Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

4 komentar:

  1. novel ini memang sangat layak dibaca..terutama untuk generasi muda saat kini..agar mereka tidak lupa tentang orang2 yg telah berjuang dengan berkorban darah dan nyawa serta harta demi mempertahankan kemerdekaan negeri ini...
    selamat berlomba..semoga menjadi yg terbaik...
    keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak Mas. Novel ini memang sangat bagus. Salam dari Jember :)

      Hapus
  2. hai bang.....awalnya baca novel ini aku kira ngebosenin ternyata enggak..

    apalagi bagian sroedji diam2 ngikutin rukmini di pasar, dan dijodohin.hahahah...
    trus pas aku baca ending2nya tau2 mewek...sebegitu berkorbannya yah bang buat negara..keren dah!!!!

    sukses yakkk

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas partisipasinya :)

    BalasHapus